Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 November 2016

Aksi 4 November 2016 : Sebuah Sejarah

Oleh: Gurnadi R.

".......And if you can't help them, at least don't hurt them." -Dalai Lama-

Aksi 4 november 2016 merupakan respon umat islam atas pernyataan gubernur non-aktif Basuki Tjahaja Purnama atau akrab disapa Ahok. Pak Ahok dianggap menistakan agama, ketika sedang melakukan kunjungan dinas di kepulauan seribu. Diperkirakan hampir 200.000 demonstran memenuhi ring satu RI. Dalam agenda aksinya, demonstran melakukan longmuch dari Patung Kuda menuju Istana RI. Demonstran tidak hannya berasal dari Jakarta, tapi juga dari berbagai daerah seperti: Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatra, dan Nusatenggara. 

Aksi 4 november, tersebut menunjukan bahwa solidaritas keagamanan tidak hannya ditingkat lokal (jakarta) dan elit (pemuka agama), tetapi juga muslim secara keseluruhan (apapun latar belakang sosial-ekonomi). Jika dilihat kacamata positif, hal ini tentu bisa menjadi kekuatan di masa mendatang, tinggal bagaimana negara dan organisasi terkait menata menjadi gerakan yang konstruktif dan positif. Kecepatan dan kepekaan negara menangkap situasi ini, tentu menetukan kesatuan bangsa kedepan.

Minggu, 29 Juni 2014

Jodoh...



Oleh: Kartika Dwi Ningsih

“Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu(Adam), dan Allah menciptkan pasangannya (Hawa) dari dirinya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak (Qs An-Nisa:1)”
 

Kita pasti seringkali mendengar kata jodoh, mengucapkan sebait doa tentang jodoh terbaik pun sering terlantun dikala tangan ini menengadah kepadaNya. Tapi apakah jodoh itu?bagaimana yang disebut dengan jodoh itu? Pertanyaan itu tiba-tiba saja terbesit dalam benak kita. Benarkah dia yang kini bersama kita adalah jodoh kita, benarkah dia yang berniat mengajak kita dalam ikatan pernikahan adalah jodoh kita. Pertanyaan ini coba saya tanyakan pada saudari-saudari saya dalam sebuah group Al-Qur’an yang saya ikuti. Dan ada banyak jawaban yang saya dapatkan. Untuk mereka yang belum menikah, menjawab tidak tahu sambil berdoa semoga mendapat jodoh terbaik adalah jawaban yang bisa mereka berikan :). Namun ada juga yang memberikan jawaban dengan baik, menurut seorang saudari jodoh itu akan datang setelah kita beristikharah dan mendapatkan kemudahan ketika sedang berproses dengan seseorang. Lantas, apakah setelah menikah pasangan kita bisa kita sebut sebagai jodoh kita? Bagaimana jika perceraian terjadi?.

Kamis, 19 Juni 2014

Pintaku untuk Mu


Oleh: kartika Dwi Ningsih


Rasulullah bersabda “ sesungguhnya Jibril diberi tugas untuk mengurus segala keperluan anak Adam. Jika seorang hamba yang kafir berdosa, Allah SWT berfirman kepada Jibril “Hai Jibril tunaikanlah keperluannya. Sesungguhnya Aku tidak suka mendengar permintannya’. Dan jika seorang mukmin berdoa Allah SWT berfirman kepada Jibril,”Hai Jibril jangan kau tunaikan dulu keperluannya,sebab aku senang mendengar permohonannya”
(HR. Ibnu An Najjar dari Jabir RA.)

Dengan menyebut namaMu Wahai Dzat Yang Maha Pengasih dan Penyayang…
Sepenggal kalimat dari hadist di atas menyadarkanku di malam ini, betapa aku selama ini merasa kuat tanpa meminta, merasa berputus asa setelah waktu yang kuanggap cukup untuk meminta padaMu namun tak jua menampakkan terkabulnya pintaku. Menyadari keterbatasanku sebagai seorang perempuan yang memiliki hasrat seksual yang tinggi namun belum jua mampu menghalalkan hubungan yang berkali-kali kandas di tengah jalan. Bukan aku tidak ingin, namun ternyata kusadari aku tidak sungguh-sungguh meminta kepadaMu Sang Maha Pengabul doa.

Senin, 02 Juni 2014

Aku & Hijrahku



Oleh: Kartika Dwi Ningsih, S.Pd
  
Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung?(Qs Al-Baqarah:5)”

Senja hari ini, berpayung rintik hujan yang terus turun sejak pagi menemaniku untuk memulai cerita ku yang tak kan pernah terlupakan. Cerita indah bagaimana Allah mendekapku dalam hangat kasihNya yang membawaku kini dalam hijrah yang tiada pernah ku duga dalm hidupku. Aku mengingat sore itu, sore dimana aku mengikuti kegiatan kampusku di sebuah gunung di daerah Jawa Barat. Mulanya semua kegiatan itu berjalan biasa saja tiada kegiatan yang menarik hatiku pada saat itu. Namun tanpa kusadari semua peserta dan panitia perempuan pada acara itu adalah perempuan-perempuan cantik yang telah membalut diri mereka dalam busana indah khas muslimah, panjang dan tertutup rapih. Sementara aku, dan beberapa temanku santai mengenakan pakaian yang biasa kami kenakan dalam kehidupan sehari-hari kami. Aku berjilbab saat itu, namun tidak serapih mereka. Saat itu aku tak memperdulikan dan bahkan tidak merasa ada yang aneh dengan busana ku saat itu.

Jumat, 03 Januari 2014

Menikah muda? Siapa takut



Oleh: Kartika Dwi Ningsih, S.Pd


Mendengar kata menikah muda sepertinya akan menjadi suatu yang aneh di masyarakat modern Indonesia saat ini. Pernikahan dalam usia muda bukanlah aib yang harus ditutupi atau sesuatu yang harus dilarang oleh kebanyakan orang tua. Mengapa demikian?karena dengan jelas Allah berfirman dalam Al-Qur’an ”Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri,supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang.Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” (Ar-Ruum 21). Hal ini menandakan kecenderungan dan ketentraman yang hadir dalam setiap diri manusia merupakan hal yang wajar adanya, tidak terkecuali oleh pemuda

Transformasi Jilbab

Oleh: Kartika Dwi Ningsih, S.Pd
 
Entah senang atau bagaimana perasaan ini memandang begitu banyak perubahan yang sangat terasa terjadi pada muslimah saat ini. Hal yang paling terasa adalah beberapa perubahan gaya hidup muslimah saat ini. Perubahan pasti terjadi, karena memang saat ini zaman terus mengalami perkembangan dan waktu tidak pernah berhenti berputar. Namun haruskah perempuan-perempuan muslimah mengikuti perubahan hanya karena ingin terlihat modern dan akhirnya mengabaikan ketentuan-ketentuan Islam dalam Al-Qur’an. 

Jumat, 16 Agustus 2013

Sebuah Pemikiran


Tulisan ini lahir dari sebuah pertannyaan seorang teman tentang islam, ketika itu ia bertannya kepadaku dalam sebuah kunjungan pada tahun 2012 di rumahku, “Apa panduanmu dalam beribadah? kita tak mungkin beragama tanpa satu pendekatan alim ibadah, karena kita hannya manusia biasa yang pengetahuannya masih rendah tentang ilmu Al-Quran dan Islam, jadi butuh ilmu dan pendekatan para alim jika kita mau menjadi muslim yang kafah”–kurang lebih seperti itu pertannyaan temanku. Menangkapi pertannyaan tersebut otakku langsung berfikir, hal yang ku anggap sederhana sebelumnya kemudian menjadi sesuatu yang memang harus kufikirkan, menurutku tidak ada salahnya pertannyaan temanku untuk dicari tau dan ditelusuri secara radikal (mengakar) kebenarannya –apa lagi aku memang suka sekali teka-teki dan investigasi.

Selasa, 06 Agustus 2013

Peperangan Pada Masa Rasulullah

 
Perang badar (2H)
             Perang badar terjadi pada bulan Ramadhan. Ketika itu Rasul memerintahkan para sahabatnya untuk mencegat kabilah dagang dari suku Quraisy yang dipimpin Abu Sufyan. Ketika itu rombongan dagang suku quraisy sedang meuju makkah dengan kekuatan 1000 ekor unta yang membawa berbagai macam barang dagang. 

Rabu, 24 Juli 2013

Mentalitas Muslim



                Ciri orang yang beriman adalah sabar dan syukur, baik seorang muslin itu dalam keadaan sempit maupun lapang. Kita sering sekali mendapatkan problematika yang membelenggu bahkan hal itu bisa jadi adalah ujian dan cobaan yang diberika Allah untuk menjadikan diri kita lebih sabar dan bersyukur. Contohnya saja, ketika kita dilanda masalah, bukan masalah apakah kita bisa menyelesaikan masalah atau tidak, tetapi bagaimana kita bisa tetap beriman dan menjaga kualitas amal kita kepada Allah dalam keadaan yang sulit sekalipun.

Senin, 15 Juli 2013

RAMADHAN DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGI PROFETIK


Oleh : AT. Alkhudri An – Nawawi III., M.Si

Makna Esensial Ramadhan
Fenomena Ramadhan selalu menghadirkan nuansa dan pernak-pernik yang menarik untuk dikaji. Tak mengherankan jika Ramadhan menjadi komodifikasi yang sangat laku di pasaran. Sebab Ramadhan hadir dalam wujud dialektis antara wahyu Tuhan (puasa) dengan nilai-nilai budaya masyarakat. Antara entitas yang sakral dengan bungkus yang profan. Antara penghambaan ilahiyah dan kesadaran sebagai manusia. Dalam konteks inilah entitas yang sakral (puasa, tarawih, dan lainnya) memiliki peranan penting sebagai tindakan simbolik yang merepresentasikan makna agama. Makna yang tentunya berimplikasi kualitatif. Dan, makna yang tidak sekedar berdimensi teologis semata. Karena hakikat berpuasa bukan sekedar ritual keagamaan, tetapi juga menghadirkan nilai-nilai kesadaran, hidup toleran dan kebersamaan yang relevan dengan nilai-nilai kebangsaan dan semangat kemerdekaan yang dalam kondisi nyata saat ini tengah rapuh, mencair, dan kian tercerabut.

Kamis, 15 Juli 2010

"Petunjuk Jalan Generasi Qurani yang Unik" Bab I Sayyid Qutb


               Islam pernah mencetak generasi yang unik, ya itu generasi sahabat. Namun generasi tersebut tidak pernah tercetak kembali dalam sejarah islam, generasi dimana jumlah orang yang banyak dan berkumpul dalam satu tempat seperti generasi pertama generai sahabat. Sebagai umat islam kita perlu mengetahui rahasianya agar kita bisa menjadi generasi yang unik tersebut guna meningkatkan kembali peradaban islam.
            Al-Quran yang dimiliki dakwah ini ada ditangan kita, hadis Rasullullah Saw dan petunjuknya ada ditangan kita demikian dengan sejarah yang mulia. Pada jaman kita yang tidak ada hanyalah Rasulullah, lantas apakan ini yang menjadi rasia dari generasi pertama?
            Meski dakwa ini dan generasi pertama adalah buah dari Rasulullah, akan tetapi kematian Rasulullah bukan mejadi alasan ataupun akhir dari dakwa ini, karena bagaimanapun kita memiliki kewajiban sebagai penerus risalah. Jika kita perhatikan kembali salah satu rahasia dari generasi pertama bukah hanya karena Rasulullah hidup di jaman tersebut tetapi taatnya generasi pertama kepada al Quran, karena Al-Quran dijadikan  sebagai pegaman utama, sumber dan tempat dasar berfikir.